Mitos Bangunan Terangker di Kaliurang Yogyakarta pada Malam Hari

banner 728x90

Yogyakarta  ( siaptv.com ) РDibalik Pesona indah kawasan wisata Kaliurang, Yogyakarta seperti tidak ada habisnya.

Maka tidak heran apabila kawasan wisata Kaliurang menjadi destinasi wisata favorit keluarga, terlebih saat musim libur panjang seperti ini.

Kaliurang adalah salah satu obyek wisata terkenal di Daerah istimewa Yogyakarta. Ternyata objek wisata itu telah terkenal sejak lama. Pada masa kolonial dulu, Kaliurang menjadi tempat bertamasya bagi para keluarga Belanda, orang-orang Tionghoa, dan kaum ningrat Jawa.

Memang pada awalnya, Kaliurang merupakan tanah milik Pangeran Puger, putra dari Sultan Hamengkubuwono II. Kawasan itu kemudian dikelola oleh Pangeran Adipati Mangkubumi. Di sana dia membangun pesanggrahan dan pemandian di Telaga Putri.

Akan tetapi rupanya, di kawasan destinasi wisata di kaki Gunung Merapi ini terdapat sebuah bangunan yang menyimpan legenda urban. Legenda urban Yogyakarta ini mengenai sebuah bangunan pesanggrahan.

Hal ini dikutip dari berbagai sumber, pesanggrahan tersebut pertama kali dibangun pada 1930. Dulu bangunan ini digunakan sebagai tempat perkumpulan misionaris Belanda.
Saat letusan Gunung Merapi 1994, bangunan ini ikut terdampak letusan hingga mengalami kerusakan yang cukup parah. Kemudian bangunan ini dibeli dan dibangun kembali oleh sebuah institusi pendidikan di Yogyakarta.


Tampak luar, cat bangunan ini sudah banyak terkelupas, bahkan beberapa bagian bangunan tampak ditumbuhi tanaman merambat dan lumut. Kusen jendela-jendela lantai dua di bangunan ini sudah lepas, bahkan hampir runtuh.
Secara keseluruhan bangunan cukup megah ini sudah hampir rubuh, sehingga cukup berbahaya jika dimasuki.

Padahal dahulu tempat ini adalah tempat wisata yang indah dimana pada tahun 1908, terdapat kebijakan dari Pemerintah Hindia Belanda untuk memajukan sektor pariwisata. Maka dibuatlah lembaga Voor Toeristen-Verkerker (VTV) yang bertujuan mengenalkan destinasi wisata yang eksotis kepada wisatawan mancanegara.

Maka dari itu, dibangunlah fasilitas seperti lapangan tenis, kolam renang, hotel, dan lain sebagainya di kawasan Kaliurang dengan keindahan alam dan segarnya udara di lereng Gunung Merapi.

Tak hanya itu, keunikan lainnya adalah cerobong asap di tiap bangunan-bangunan itu. Saat itu, villa-villa dibangun oleh kesultanan dan dirancang oleh biro arsitek Sitsen En Louzada.

Setelah jadi, pada bangsawan keraton kemudian menempati bangunan itu untuk singgah sementara. Namun ada pula villa yang disewakan untuk umum dan juga dijual pada orang Eropa dan Tionghoa yang kaya raya.

Selain jadi kawasan wisata, pernah satu hari salah satu hotel di Kaliurang menjadi tempat berunding. Sebagai hotel pertama yang memiliki penerangan lampu listrik, Hotel Kalioerang dipilih menjadi tempat perundingan untuk menengahi perselisihan antara Indonesia dengan Belanda.( Nug )

 

banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *